Terima kasih. Pelukan dingin dari udara dini hari dan beberapa gigit-gigit kecil serangga, disini kurayakan hal yang tak biasa kurayakan.
Aku tak biasa merayakan tanggal ini. Aku tidak begitu suka, karena hari-hari sama saja. Apa ada yang berbeda? Mungkin teman-teman yang mengucap, mungkin juga teman-teman yang memalak, mungkin juga teman-teman yang tak acuh.
Apa yang kupikirkan setiap tanggal ini adalah saat dimana sudah genap tiga ratus enam puluh lima hari aku berusaha hidup di dunia muna ini. Konflik, kritik, pelik. Membosankan. Sudah berapa kali aku mengatakan bahwa hidup ini mulai terlihat membosankan? Cuma cekikik-cekikik bersama teman-teman yang membuatnya tidak begitu terlihat bosan. Tapi tetap sejatinya bosan. Bosan.
Lucu tak, kalau saja ada hal yang membuat jam ku berhenti berputar? Baterai habis, korsleting? Terbanting?
Anggap
Aku bukan lelaki yang layak dikagumi. Aku cuma ingin dianggap seperti angin. Dingin. Ada. Aku binatang, cuma binatang. Anggap saja aku ada. Jangan pernah menginginkan ku karena aku binatang liar yang tak layak pelihara. Jangan pernah mengelukanku karena aku bukan Tuhan mu yang layak kau puja.
Aku cuma lelaki penuh pencitraan.
Anggap, Aku ada, saja.
"Mbok, pengen...."
Ketika budaya
barat yang memborbardir
melanda
mencandui timur
"Pengen...."
adalah bibit budaya
konsumtif.
pengecut

