Sabda tentang Kehadiran Yesus yang Kedua Kalinya

Mahesa.


Namaku Mahesa Utara. Nama yang diberikan oleh Ayah untuk mengenang halaman rumahnya waktu kecil. Ayah bilang, dia terlalu banyak berpindah-pindah tempat. Ayah juga bilang bahwa jika kita ingin mengerti arti rumah, merantaulah lebih jauh dari rumah. Mungkin kala aku dilahirkan, Ayah sudah mengerti arti rumah. Aku dan kamu mungkin masih belum tahu artinya. Tapi masih banyak waktu sampai akhir hayatmu nanti. Maka kita harus lekas mencari. Kita sebaiknya harus lekas pergi jauh dari rumah, begitu kan pikirmu? Bodoh! Kemauan untuk pergi dari rumah sama saja sepeti pikiran dari anak Punk yang trending pada jamannya. Pemikiran yang cethek. Kemauan untuk pergi, lebih tepatnya kemauan untuk melarikan dari rumah. Pergi dari rumah berarti, pergi untuk membawa suatu cerita atau apapun ketika kita kembali ke rumah. Cerita tentang susah-sedih, senang dan membanggakanmu akan kau bagikan bersama penghuni rumah. Ibu, Ayah dan saudara-saudaramu. Pergi dari rumah juga melewati pertimbangan finansial serta emosi oleh orangtua mu. Pertimbangan yang bisa saja membuat orangtua mu tidak tidur dalam tiga hari atau seminggu dan bahkan sebulan sebelum kepergian mu. Emosi yang hampir sama saat pernikahan. Saat tradisi sungkem diadakan. Perasaan tidak tega untuk melepas bocah kecilnya hidup sendiri merantau di tanah orang yang kejam dan tidak seindah yang di iklan kan di media, sosial maupun dari mulut ke mulut.

Mahesa Utara adalah nama yang memalukan untuk dunia yang modern seperti ini. Terlebih di abad seperti ini. Bocah-bocah pribumi di zaman ini sudah menggunakan nama kekinian; James, John, Abigail, Gordon, Lisa, Milly. Nama-nama yang biasa digunakan oleh anak-anak dari etnis berkulit kuning. Nama-nama yang digunakan oleh anak-anak yang lahir dengan kekayaan orang tuanya.  Tapi kekinian itu kelawasan di barat. Orang-orang Barat sudah tidak menggunakan nama mainstream seperti itu lagi. Tapi Ayah tetap bersikeras memberi alamat tempat tinggal masa kecilnya sebagai namaku. Sebagai gantinya masa kecilku penuh dengan olok-olok dari teman-teman. Pernah aku malu memperkenalkan diri dengan nama Mahesa. Lalu aku memutuskan tidak menjawab. Sampai, otak dan mulutku bersekongkol untuk membuatku semakin malu dengan nama itu. "Maut. Namaku Maut." Lalu seluruh orang yang belum mengenalku menjauhiku tanpa ingin tahu lebih dulu. Maut. Mahesa Utara. Otakku mengambil 2 awalan di setiap nama. Ma dan Ut. Mungkin itu akan terlihat lebih keren, tapi tidak. Itu terlihat terlalu psikopat untuk orang-orang era ini.

*

Avel Krustofsky, adalah pengusaha dari Russia yang memiliki mimpi-mimpi terwujudkan. Ia hidup dari mimpi-mimpinya. Di masa kecil, Avel dan adik perempuannya kehilangan kedua orangtua nya di bencana alam yang mengerikan. Ia melihat kematian orangtua nya dengan mata kepalanya sendiri. Lalu dari kejadian itulah, Ia perlahan-lahan naik untuk membuat dunia melihat dirinya dan program-program nya tentang keselamatan bencana alam. Bahkan Avel berani mengutarakan bahwa dirinya memiliki bahtera yang lebih canggih daripada milik Nabi Nuh. Sayangnya, media hanya mengetahui 3 W sederhana. Who, siapa yang memiliki; tentu Avel. What, apa yang Avel buat; sudah diutarakan Avel yaitu Bahtera. Dan Why, mengapa Avel membuat bahtera itu; karena salah satu kejadian tragis masa kecilnya. Tapi keberadaan bahtera itu tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Avel, dimana dan berapa, atau bagaimana.

Dari kesuksesan seorang lelaki pasti ada sangkut paut perempuan hebat dibelakangnya. Sosok perempuan dibelakang pengusaha kaya raya dari Russia, Avel, bukanlah istrinya. Melainkan adik perempuannya yang selalu menemani sejak mereka berdua kehilangan orangtua mereka di bencana alam yang tragis tersebut. Mereka berdua adalah orang yang sulit sekali ditemui oleh pihak media maupun pihak resmi dari negara. Sulit memang. Tapi pertemuan-pertemuan bisa saja diatur oleh adik perempuannya. Mereka memang sulit diajak untuk berkomunikasi dengan pihak lain. Menggunakan pengibaratan, Avel adalah Allah yang memiliki dan bisa melakukan segalanya. Sedangkan saudarinya, adalah Nabi yang menyampaikan apa yang ada dalam pikiran Allah nya. Apa-apa saja yang disampaikan saudarinya ke "Allah" nya, lalu dikehendaki oleh Avel, akan terjadi. Seperti memberi makan satu daerah pasca bencana dalam hitungan jam, bantuan pembangunan kota dalam hitungan hari, dan lain sebagainya.

Dengan proses yang panjang dan merintis dari bawah perlahan-lahan bersama dengan saudarinya, Avel menjadi manusia dengan kepala termahal. Berdasarkan majalah-majalah bisnis di enam tahun terakhir, Avel lima kali berturut-turut menjadi pengusaha zillionare mengalahkan para pengusaha billionare lainnya. Bayangkan ketika kamu seorang Avel Krustofsky? Kamu memiliki total jumlah kekayaan dengan menambahkan kekayaan-kekayaan para sainganmu di bawah peringkatnya. Kabar dengar kabar, Herschel Krustofsky tersangkut kasus narkoba dan sekarang menjadi buron. Kakaknya, Avel, baru mengetahui berita tersebut ketika bahtera nya selesai dibuat. Dan keberadaan Herschel masih tidak bisa dicari. Dengan Avel yang kehilangan adiknya, lengkap sudah penderitaan Avel. Setelah itu, sosok Avel Krustofsky menghilang dengan sekejap. Otomatis media tidak bisa mencari, yang notabene menggunakan Nabi-nya, Herschel sebagai perantara untuk bertemu dengan pengusaha kaya raya itu.



Tapi... pihak polisi dan segala agensi tidak menyahihkan bahwa Herschel adalah buron karena narkoba.

*

"Mahesa? M-ma-mahesa .. ?"
Menyebalkan sekali jika kita bangun tidur dan ada orang di hadapan kita yang sok kemrungsung, iya kan? Menyusahkan.
"Mahesa? Kamu sudah sadar?"
Sadar apanya? Macam orang pingsan saja. Aku baru bangun tidur jadi tolong agak kecilkan suaramu. Anyway, ini jam berapa ya?
"Kamu tertidur dua hari, Mahesa.. Kamu baru saja melakukan operasi."

Astaga, jadi beberapa mimpi ku tentang kegaduhan disekitar tempat tidurku itu nyata? Mungkin karena aku terlalu acuh untuk mengerti atau memahami suatu peristiwa. Tapi jujur aku juga terasa begitu lelah. Mungkin dosis anestesi yang diberikan padaku terlalu nikmat kurasakan. Biasanya, segala macam anestesi yang diberikan oleh dokter, maupun penjahat yang mencoba melakukan suatu hal buruk padaku tidak akan ampuh. Sejak kecil, anehnya, aku suka bermain dengan alkohol, sampai obat tidur. Pernah Ibu memisahkan aku dari obat-obatan berbahaya itu, tapi efeknya aku tertidur (atau mungkin koma?) selama tiga hari! Untuk di era ini hal-hal macam itu sudah biasa dan lumrah adanya. Zaman dimana anak-anak kecil masuk berita karena media televisi kehabisan hal yang membuat heboh dan menutupi beberapa kasus internal negara. Sesepele media telivisi yang menayangkan acara pernikahan dari siraman sampai pesta megah sang selebriti untuk menutupi kasus korupsi para pejabat negara yang mempunyai nama besar. Sama halnya dengan beberapa bocah itu, aku salah satunya. Bocah umur 3 tahun yang menjadi perokok berat. Bocah doyan makan kerikil. Kerikil doyan makan bocah. 

"Ada seseorang yang menyerangmu tiba-tiba saat kita saling obrol."
Jadi kamu gadis yang menemani aku di taman kota dini hari itu?
"Iya.. Orang itu mabuk. Lewat ke arah kita lalu menghantam mu di bagian belakang kepala. Apa kamu punya masalah dengan dia?"
Sebentar.. Darimana kau mengetahui nama ku?
"Please.." gadis itu menggelengkan kepalanya. "Aku harus membawa mu ke rumah sakit terdekat dan aku tidak tahu namamu? Bodoh sekali aku? Aku tahu dari tanda pengenalmu."
Jika tanda pengenal ku membuatmu mengerti namaku, apa kau melihat tanda pengenal orang yang menghantam kepalaku?

Dering ponsel gadis itu berbunyi tetiba. Lalu tidak sempat dia menjawab pertanyaanku, kemudian dia keluar untuk menjawab panggilan. Sekitar 30 menit aku memilih untuk tetap terkapar, karena kepalaku tidak kuat menahan nyeri perih yang berulang-ulang. Setelah selesai menjawab panggilan ponselnya, gadis itu terlihat terburu-buru masuk untuk menyalakan televisi di hadapanku agar aku setidaknya ada kegiatan ketika aku beristirahat di ranjang, dan berpamitan dengan tergesa-gesa. "Aku akan kembali, aku pergi sebentar," katanya.

Berita yang ada di televisi cuma diulang lagi dan lagi, itu dan itu, ini dan anu. Tapi ada satu berita yang selalu sama sejak awal ada berita di televisi dari dulu hingga sekarang. Agama yang memecah belah. Imbuhan me- atau ter- sepertinya sama saja. Karena adanya Agama akan memecah belah, kepercayaan yang diajarkan akan membuat kita terpecah belah. Aku bukan seorang atheis tapi aku percaya tentang Tuhan yang mengutusku untuk hidup di dunia ini. 

"Selamat pagi. Newsflash pada pagi hari ini adalah tentang ..."
orang yang berteriak-teriak di pinggir kota. Menjelaskan tentang imbuhan me- dan ter- yang disebabkan oleh Agama yang kita anut sekarang ini. Agama yang sudah berusia berpuluh-puluh abad. Karena orasi nya yang meracau, orang itu ditahan oleh pihak berwajib sekarang ini. Tidak hanya menjelaskan kebobrokan kita, dia seperti sedang kesurupan suatu hal yang satanis atau keillahian? Kita belum tahu. Karena jika kau mendengar racauan orang yang mengaku sedang berbahasa roh, kau mendengarnya sebagai satanis tapi mereka berkata sebagai hal yang keillahian. Lalu ketika orang itu digebuki oleh polisi dan hampir mati, dengan sisa kekuatannya dia berkata.

"..akan ada yang datang dari timur pegunungan dengan pucuk berwarna putih. Membawa perdamaian bersamanya, mengajarkan cara berdoa yang baru. Orang-orang kelaparan akan dikenyangkan. Orang-orang sakit akan percaya, lalu sembuh atas dasar imannya. Pengikutnya akan semakin bertambah seiring dia melewati satu daerah ke daerah lain. Tuhan ku, Tuhan mu dan kita, Tuhan yang satu yang menciptakan kita, bukan Tuhan yang kita ciptakan, akan menyertainya."


Lalu kebebasan pers yang mereka anggap terlalu bebas menyorot orang tadi. Lalu mati. Nabi itu, mati.

Menulis itu ...

Jadi ...

Artikel ini sebagai pengganti salah satu cerita yang selalu update tiap bulan. Niatnya oh niatnya setidaknya akhir Mei 2015 sudah selesai. Tapi menurutku, aku tidak janji dan kurang berani untuk publish cerita itu. Karena apa .. ?

Karena, satu. Cerita susah selesai. Sebabnya aku menaruh dialog disitu. Dan dialog adalah salah satu kelemahanku dalam menulis. Kepiawaianku menulis dan membuat cerita di blog ini biasanya tentang keluh kesah atau cerita tentang pengalaman. Mengajak pembaca aktif berpikir bahwa dari tulisanku, aku mengajak pembaca berkomunikasi. Entah sudah begitu atau dalam tahap seperti itu aku kurang mengerti, karena kalian pembacanya.

dua. Akhir Mei 2015 adalah minggu terakhir. Minggu terakhir yang menjadi awal Ujian Praktek kenaikan tingkat ku di kampus ini.

Kenapa awal Mei tidak dicicil?
Bro, menulis tidak semudah itu. Kelihatannya menulis itu gampang. Mudah kalau pekerjaan mu sebagai penulis. Ibaratnya begini. Kamu sering mencaci maki guru, dosen, atau pengampu mu kan? Pengajar yang selalu memaksa kita untuk mahir apa yang dia ajarkan. Guru kimia selalu menuntut kita untuk mendapat nilai bagus di mata pelajarannya. Sedangkan kita masih dituntut pengampu fisika, sutradara teater, pelatih futsal dan berbagai macam kesibukan kita. Aku, berharap aku bisa menyelesaikan tulisan itu jika aku penulis. Harapanku, menulis satu artikel tiap bulannya, kemudian ku tumpuk jadi satu lalu ku ajukan ke publisher, semoga jadi novel. Pikirku......

Ada juga alasan dimana penulis selalu membutuhkan ritual. Ada penulis yang butuh rokok sebelum menulis. Itu yang simpel. Rumitnya, sampai ada pujangga yang harus dan meminta mesin ketik untuk melanjutkan maupun menghasilkan karya. Nah, aku, di segi ini, menulis dengan caraku, harus menulis dengan template blogger. Dan mungkin lagu tentu yang paling berpengaruh. Terkadang sepi sampai ramai band pengisi playlist lagu ku juga pengaruh.

Lalu ....?
Lalu untukmu, teman, menulis ada cara yang dasarannya kamu miliki. Id. Bukan Ide. ID. Identity. Ada penulis yang selalu memiliki inspirasi tentang cinta dan komedi, Raditya Dika misalnya. Atau perbedaan dan cinta yang menyemenye warna merah jambuajingan, Dwikaliantahulah orangnya. Atau Ayu Utami dalam seri Bilangan Fu yang mengisahkan tentang protes 98 (pada masa nya). Djenar Maesa Ayu, dengan sexist nya. Edgar Allan Poe, dengan cerita thriller, phsyco-analitik nya. Aku, (yang kata teman ku) seluruhnya tentang penyesalan hidup, kematian, serta kemurungan pada tokohnya.

ID, identity, itu bisa didapat dari refleksi hidup. Jadi gini, aku sosok orang yang susah mendapat apa yang aku ingin. Tidak gampang jika aku menginginkan sesuatu. Aku harus bermimpi, preparing, berjuang, lalu gagal. Lalu biasanya, tahap selanjutnya, legowo. Aku orang yang sudah terlalu legowo untuk menerima bahwa apa yang aku inginkan tidak bisa kudapat. Jadi wajar-wajar saja aku membuka olx.co.id lalu cuma seperti sekedar melihat galeri sebuah pameran virtual. Yang keywords apa di situ hanyalah sekedar pepinginan ku.

Jadi misal, kamu adalah sosok yang--anggaplah--mengerti wanita. Dari banyak mendengar curhat teman-teman perempuan mu, menasehati segala permasalahan yang ditanyai oleh mereka. Tapi kisah cintamu tidak bisa segampang yang kamu bilang ke teman teman curhat mu.

Misal lho bro............




Udah yee? Besok (28 Mei) Mulai ujian praktek mesin.

Van Gogh diatas Paramount Bed

Setelah turun di stasiun yang akan mengantarku lebih dekat jaraknya ke rumah, aku membaca brosur itu berulang-ulang. Sama seperti ketika kita buang air besar dan kita tertarik untuk membaca keterangan di balik botol sabun atau shampoo. Bahkan dalam perjalanan tidak ada yang tergagas--ku anggap. Mungkin saja aku telah melewati pengemis yang tersungkur kedinginan di bawah lampu trotoar perlu selimut untuk melawan dingin, atau aku melangkahi pra-mayat yang merintih setelah digebuki oleh perampok malam. Aku bukan tipe orang yang begal-able, sodom-able, atau berbagai able yang ditakutkan oleh orang orang. Penampilanku tidak memikat. Itu salah satu alasan mengapa aku tidak pernah mengalami kejadian buruk pada malam hari. Salah dua nya, aku tidak memiliki pasangan hidup sampai umur ku sekarang ini.

Kakiku melangkah ke antah berantah. Ke suatu tempat dimana angin menghembuskan tulang berkulit ini. Sambil berpikir tentang keganjilan di halaman parkir stasiun. Wajar saja karena taksi, becak, ojek di stasiun itu entah kenapa selalu enggan mangkal di malam hari. Mungkin saja karena pemikiranku tentang kemungkinan-kemungkinan kereta malam yang akan 'meramaikan' suasana malam bisa terjadi kapan saja. Kereta malam yang saling tabrak, lalu terjadi ledakan dan membuat suasana hingar bingar. Para asongan, kaki lima, dan pedagang yang sudah membayar penuh warungnya di stasiun itu kehilangan modal atau barang dagangan yang menjadi modal, kata mahasiswa akuntansi. Dan masing-masing dari mereka berharap dagangannya masih layak jual agar keturunannya dapat meneruskan hasil jerih payahnya yang sudah dirintis bertahun-tahun. Sangat bertentangan dengan keadaanku. Aku tidak pernah akan bisa menjadi seorang businessman, wiraswasta, atau pekerjaan apapun yang harus dirintis lalu diserahkan pada keturunannya di akhir hayat. Bagaimana bisa aku menjadi orang macam mereka kalau kalau tidak ada janin? Iya kan? Janin perlu sperma dan telur untuk ada. Aku punya sperma, tapi telur? Bisa saja, kalau aku hermaprodit? Hermaprodit? Manusia yang memiliki dua kelamin? Bocah-bocah akan gilo atau tertawa mendengar istilah itu. Kamu--mereka, makhluk itu, harus mengalami rasa sakit menstruasi setiap bulan sebelum merasakan puncak kesakitan sunat. Lalu ketika ulang tahun ke delapan belas, makhluk itu sudah legal berhubungan badan dengan lawan jenis. Lawan jenis bagaimana kalau misal dua-dua nya di miliki satu orang? Dua kelamin, satu orang? Apa nikmatnya hermaprodit berhubungan badan dengan makhluk yang sama sekali tidak mempunyai kelamin? Ya kan? Manekin? Bisa kau pikirkan betapa susahnya memasukkan batang itu ke dalam lubang di bawahnya. Batang yang tegang di atas, harus di tekuk dahulu ke bawah lalu hermaprodit baru bisa di sebut berhubungan sendiri.

"Amalgamated ya.. ?"
Suara dari belakang menyentakkan tubuhku. Aneh saja, biasanya tak ada orang di jam jam malam seperti ini. Dan aneh juga, ada orang yang mendekatiku. Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak rupawan, penampilanku tidak memikat. Jadi pantas saja kan kalau aku bertanya tanya? Toh siapa tahu dia orang penting yang tersesat di sekitar sini.

"Dapat darimana brosur itu?"
Anu.. seseorang di stasiun.
"Iya kah? Aku juga naik kereta! Kamu juga naik kereta malam terakhir kah?"
Kedua sebelum terakhir.
"Yaah, aku kira kita satu jadwal kereta.. Tapi.... um.. kereta mu satu jam lebih awal dari kereta terakhir, lalu mengapa kamu masih di sini?"
Aku sedang mencari kesunyian.
"Di taman seperti ini? Malam malam seperti ini? K-...."
Dini hari. Sela ku memotong omongannya.
"Oh iya, dini hari. Kenapa?

Gadis ini terlalu cerewet. Dia ingin tahu apa saja dari orang yang ia temui, ia lihat, dan ia kagumi. Tapi aku tidak mengagumkan, katanya. Aku misterius. Siapa orang yang sedang berjalan santai di malam gelap nan sunyi, di taman remang tanpa bunyi? Pikirnya. Aku sih wajar-wajar saja, karena rumahku terlalu ramai. Bukan kondisi rumahku yang tidak kondusif. Ayahku bukan seorang pemabuk yang akan datang di pagi-pagi buta, lalu Ibuku menyambut muntahan dari lelaki tersayang nya yang mengarah ke wajah Ibu. Bukan. Melainkan Bapak dari lain rumah yang sering memuntahi apa saja ke Ibuku. Ibuku yang selalu menunggui suaminya yang berteman dengan larut. Tetapi bajingan berbau alkohol itu yang setiap kali tidur di sofa ruang tamu rumah kami.
Bapak itu semi-pengangguran. Istri dan anaknya lari dan hidup dengan orang lain yang lebih dari Bapak ini. Rumahnya yang di sebelah rumah ku sudah tidak bisa untuk menonton TV dan kegiatan sewajarnya. Perusahaan listrik sudah mencabutnya karena dia tidak pernah membayar uang bulanan. Pekerjaannya hanyalah menunggu suatu tren kejahatan baru yang selalu ditampilkan oleh berbagai stasiun televisi di dunia. Aneh kan? Peran TV sekarang sudah berbeda. Berita-berita yang di tampilkan untuk khalayak umum bersifat mendidik dan menghibur. Tapi jika berita yang ditampilkan segalanya adalah tentang kejahatan, ulah-ulah manusia yang ingin membunuh manusia dengan berbagai macam makanan campuran bahan kimia jahat, apakah peran televisi masih untuk mendidik dan menghibur? Ya. Masih. Mendidik para calon penjahat baru, dan menghibur para psikopat yang sudah terlalu jenuh dengan volume manusia yang terlalu banyak di Bumi. Jadi intinya aku sering hidup serumah dengan penjahat bajingan satu itu. Tapi dia tidak pernah menerapkan kejahatan apapun ke keluargaku. Dosa sekecil apapun. Berbohong sekalipun dia tidak pernah melakukannya. Pernah suatu hari dia pulang ke rumah kami dalam keadaan sempoyongan dan menangis. Ia bercerita semua ke Ibu tentang kriminalitasnya waktu itu. Ia merampok satu gadis yang lewat di jalan sepi dekat jalan besar. Lalu setelah mengambil semua barangnya dan ingin membuang jasadnya, ternyata yang dirampoknya adalah anak gadisnya yang dibawa istrinya hidup dengan lelaki lain. Baru satu-dua hari ini rumah kami kehilangan kehadiran bajingan satu ini.

"Siapa namanya?"
Norris. Namanya terlalu keren untuk kisahnya yang begitu.
Seperti apa ...

*

Kepala ku pening. Nafasku terengah-engah tetapi jantungku berdegup lemah, dan sungguh, terlalu sakit untuk membuka mata terlalu cepat karena aku bertemu gadis yang tidak mungkin bisa kutemui di dunia nyata. Gadis yang bisa dibilang terlalu kurus untuk ukuran gadis lain dan dia terlalu proporsional jika disandingkan berdiri maupun duduk bersamaku. Gadis dengan rambut sebahu, gadis dengan kacamata frame sedang berwarna hitam yang lesung pipitnya membuatku merana ingin bertemu dengannya lagi. Gadis yang ingin segera kutulis dan analisis dalam mimpiku di notes milikku. Bukan diary tapi sebuah catatan. Notes, notebook. Buku kecil seukuran smartphone, dengan cover kulit sintetis berwarna hitam. Seperti catatan perjalanan yang dimiliki semua pelancong. Sebut aku tidak penting? Tapi apa kamu tahu pelukis terkenal abad 19 dia melukis ketika terbangun dari tidurnya. Demi ingin mengabadikan mimpinya. Lalu kau akan semakin menyebutku gila. Karena banyak orang menyebut Van Gogh pelukis gila. Iya benar dia gila karena epilepsi lobus temporal nya yang menyiksanya. Tapi apa memang cukup dengan epilepsi yang membuat pelukis itu bunuh diri dan memotong telinga nya? Apa kau tahu, untuk kematian satu orang, lebih dari 150 psikiater dari penjuru dunia berkumpul dan berdebat, lalu menghasilkan setidaknya 30 diagnosis penyakit yang berbeda? Schizoprenia, bipolar disorder, syphillis, keracunan cat, epilepsi, malnutrisi, kelebihan kerja, insomnia, alkoholik dan poryphyria akut. Apa diagnosis itu kurang untuk membuat orang terkenal kala itu menjadi gila dan membunuh dirinya sendiri?

Kelopak mataku akhirnya terbuka dan aku melihat cahaya absurd yang bergerak cepat dari bawah kelopak mataku menuju atas lalu menghilang dan digantikan oleh cahaya lainnya yang datang dari bawah. Seluruh badanku perih dan pegal. Apakah aku terjatuh dari tempat tidur? Ku tak tahu. Lalu perlahan lahan aku melihat keramaian di sekitarku. Mereka berlari menuju suatu tempat bersama sama. Menarik tubuhku dan tempat ku terbaring. Mungkin saja ini masih mimpi tapi aku tak peduli. Nafasku menjadi lemah, mungkin karena sosok gadis yang kutemui itu membuat otakku menjadi rileks dari terbangunnya aku secara tiba-tiba setelah bermimpi. Tapi rileks ku bisa saja karena sebab lain. Bisa saja karena visual yang kulihat memang benar? Aku seperti berada dalam satu ruangan dimana lima orang mengelilingi tempat tidurku. Dua di sisi kanan, dua di sisi kiri, dan satu di sisi atas kepalaku. Lalu perlahan-lahan pandanganku semakin kabur. Bulu mataku membuat visualku meremang, abu-abu. Sepertinya aku masih terlalu lelah. Aku akan melanjutkan istirahatku, aku tidak akan memperdulikan mereka. Mungkin mereka hanya 5 dari orang yang hadir di mimpiku. Mungkin setelah ini aku akan terbangun. Setelah... ini...




"Mahesa, kamu harus kuat ya..."